TW I 2020, Pertanian dan Industri Pengolahan Diprediksi Meningkat

TW I 2020, Pertanian dan Industri Pengolahan Diprediksi Meningkat
Gubernur Kaltara

JAKARTA – Pada awal 2020, sesuai laporan perekonomian Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) November 2019 yang dirilis Bank Indonesia (BI), lapangan usaha pertanian diperkirakan tumbuh meningkat didorong oleh produktivitas tandan buah segar (TBS) yang diperkirakan semakin baik seiring semakin produktifnya usia tanaman dan adanya kondisi cuaca yang baik paska cuaca ekstrem di akhir tahun.

Selain itu, produksi komoditas tanaman bahan makanan (Tabama) utama yaitu padi yang diperkirakan akan memasuki masa panen pada bulan Oktober-Maret akan memberikan dampak positif terhadap produksi lapangan usaha pertanian. “BI menilai, selain didukung oleh kondusifnya sisi suplai (prakiraan cuaca cukup baik), outlook harga CPO yang baik mendorong tingginya produksi CPO,” jelas Gubernur Kaltara, Dr H Irianto Lambrie.

Membaiknya lapangan usaha pertanian dan industri pengolahan itu tetap terjadi, meskipun proyeksi harga komoditas stagnan pada 2020 sebesar USD 575 per kilogram oleh World Bank dalam CMO. “Pun demikian, terdapat beberapa insentif yang dilakukan oleh pemerintah seperti insentif pajak ekspor dan penerapan B30 di 2020 yang akan meningkatkan serapan CPO domestik, dan menjaga kinerja industri kelapa sawit untuk tetap kuat,” ucap Irianto

Sementara itu, secara umum pada 2020, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Kaltara akan tumbuh meningkat dibandingkan 2019 dengan range sebesar 7,18 hingga 7,58 persen (yoy). Pertumbuhan yang kembali meningkat ini diperkirakan bersumber dari berbagai lapangan usaha utama di Kaltara. “Untuk setahun, BI menaksir bahwa lapangan usaha konstruksi masih akan tumbuh tinggi didorong adanya percepatan pembangunan PLTA Sei Kayan yang telah memasuki tahap I untuk proyek sebesar 900 MW, rencana konstruksi 2 PLBN (Pos Lintas Batas Negara) baru di wilayah Kaltara, melanjutkan pembangunan jalan perbatasan Malinau-Krayan, serta pembangunan beberapa gedung dan sarana perkantoran di wilayah Kaltara oleh beberapa instansi,” beber Irianto. Lapangan usaha perdagangan juga turut memberikan andil pertumbuhan sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat pada tahun depan.

Dituturkan Gubernur, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara juga seluruh elemen terkait juga patut mewaspadai risiko dari sisi eksternal, dimana pelemahan ekonomi global diprediksi akan menjadi faktor penahan utama peningkatan perekonomian Kaltara pada 2020. International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook periode Mei 2019 merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2020 dari semula 3,6 persen (yoy)

pada periode Oktober 2019 menjadi 3,4 persen (yoy),” ucap Gubernur.

Di samping itu, pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan melambat turut meningkatkan ketidakpastian pasar. Berbagai identifikasi menunjukkan pertumbuhan ekonomi dunia semakin konvergen melambat didorong revisi pertumbuhan ekonomi AS, Eropa, Jepang dan Tiongkok yang keseluruhannya memperlihatkan tren perlambatan. “BI menilai perkembangan ini berdampak pada penurunan harga komoditas dunia yang juga didorong oleh peningkatan pasokan dari AS. Pada 2020, konsumsi dan investasi diperkirakan melambat disebabkan dampak stimulus fiskal yang mereda dan permasalahan struktural tenaga kerja antara lain produktivitas dan participation rate yang masih rendah,” papar Irianto.

Lebih jauh, berlanjutnya perlambatan ekonomi Tiongkok di tengah trade war berpotensi menahan ekspor, konsumsi domestik (terkait wealth effect), dan kinerja sektor industri.(humas)